HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar
~ ADVERTISEMENT ~

Mengapa 40% Bisnis Gagal di Tahun Pertama dan Cara Menghindarinya

Mengapa 40% Bisnis Gagal di Tahun Pertama dan Cara Menghindarinya

Sumbar, KabaRakyat.web.id - Statistik menunjukkan bahwa 40% bisnis gagal di tahun pertama. Sobat KabaRakyat, ini berarti dari 100 bisnis, 40 langsung tutup. Angka ini mencerminkan kerasnya dunia usaha bagi pemula.

Dari 60 bisnis yang bertahan, 80% gagal dalam lima tahun. Ini menyisakan hanya 12 bisnis. Sobat KabaRakyat, kegagalan ini sering terjadi karena kurangnya persiapan.

Dari 12 bisnis tersisa, 80% lagi gagal di lima tahun berikutnya. Hanya tiga yang bertahan hingga 10 tahun. Sobat KabaRakyat, ini menunjukkan betapa sulitnya sukses jangka panjang.

Michael Gerber dalam bukunya "E-Myth Revisited" mengungkap penyebabnya. Buku ini masuk daftar 20 besar buku bisnis terbaik. Sobat KabaRakyat, Gerber membongkar mitos menjadi pengusaha.

Banyak orang berpikir jadi pengusaha itu mudah dan menyenangkan. Sobat KabaRakyat, realitasnya jauh berbeda. Banyak yang kelelahan dan kehilangan semangat awal mereka.

Gerber menjelaskan, kebanyakan pengusaha berawal dari teknisi. Misalnya, tukang roti, programmer, atau penata rambut yang jago di bidangnya. Sobat KabaRakyat, keahlian teknis sering jadi pemicu.

Mereka merasa kurang dihargai di pekerjaan sebelumnya. Bos yang menyebalkan mendorong mereka keluar. Sobat KabaRakyat, mereka lalu berpikir bisa membangun bisnis sendiri.

Asumsi fatal muncul: keahlian teknis cukup untuk sukses. Sobat KabaRakyat, ini salah besar. Mengerti teknis dan menjalankan bisnis adalah dua hal berbeda.

Tukang roti membuka toko, tapi kewalahan mengurus pemasaran. Programmer mendirikan perusahaan, namun bingung mengelola keuangan. Sobat KabaRakyat, impian jadi mimpi buruk.

Gerber bilang, ada tiga personalitas dalam diri kita. Pengusaha, manajer, dan teknisi saling bertarung. Sobat KabaRakyat, ketiganya ingin jadi bos tanpa kompromi.

Pengusaha adalah visioner yang hidup di masa depan. Dia penuh ide dan inovasi. Sobat KabaRakyat, tapi dia sering abaikan realitas saat ini.

Manajer suka keteraturan dan hidup di masa lalu. Dia mengatur segala sesuatu dengan rapi. Sobat KabaRakyat, ini kontras dengan pengusaha yang suka perubahan.

Teknisi fokus pada saat ini dan kerja teknis. Dia suka bekerja dengan tangan sendiri. Sobat KabaRakyat, ide baru sering dianggap mengganggu.

Ketiga personalitas ini harus seimbang untuk sukses. Sobat KabaRakyat, kalau teknisi dominan, bisnis cenderung stagnan. Ini resep kegagalan yang umum.

Bisnis punya tiga fase: balita, remaja, dan dewasa. Di fase balita, pemilik lakukan semuanya sendiri. Sobat KabaRakyat, ini melelahkan dan tak berkelanjutan.

Fase remaja dimulai saat pemilik minta bantuan orang lain. Sobat KabaRakyat, ini langkah penting. Tapi, kualitas kerja sering jadi masalah baru.

Di fase dewasa, bisnis punya visi jelas seperti McDonald’s. Mereka sukses karena sistem kuat sejak awal. Sobat KabaRakyat, ini beda dari bisnis biasa.

Gerber menyarankan sistem seperti franchise untuk sukses. Sobat KabaRakyat, sistem ini kurangi risiko gagal. Bisnis jadi mesin yang mudah direplikasi.

Posting Komentar