HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar
~ ADVERTISEMENT ~

Pertamax Dioplos Pertalite? Fakta dan Kerugian bagi Masyarakat

Pertamax Dioplos Pertalite? Fakta dan Kerugian bagi Masyarakat

Sumbar, KabaRakyat.web.id - Kasus dugaan korupsi di PT Pertamina kembali mencuat dan menyita perhatian publik. Kejaksaan Agung mengungkap adanya praktik manipulasi bahan bakar minyak (BBM). Dugaan ini menyasar Pertamax yang diduga dioplos dengan Pertalite. Sobat KabaRakyat, dampaknya langsung terasa pada kendaraan kita.

Jika BBM yang kita beli tidak sesuai spesifikasi, masalah serius bisa muncul. Pakar otomotif Fitra Eri menjelaskan risiko yang mengintai mesin kendaraan. Oktan di bawah standar minimal bisa memicu kerusakan fatal. Ini jadi perhatian penting, Sobat KabaRakyat.

Mobil modern dilengkapi knocking sensor untuk mendeteksi oktan rendah. Sensor ini memperlambat pengapian demi mencegah detonasi awal atau knocking. Namun, tenaga mesin tetap berkurang dan konsumsi BBM meningkat. Sobat KabaRakyat, ini kerugian nyata bagi pengguna.

Namun, oktan bukan satu-satunya faktor dalam kualitas BBM. Ada keasaman, viskositas, nilai kalor, hingga aditif yang berperan. Jika spesifikasi tidak terpenuhi, filter bensin bisa tersumbat lebih cepat. Sobat KabaRakyat, ini memperparah kondisi kendaraan.

Pada mobil dengan standar Euro 4, BBM di bawah kualitas bisa menyumbat catalytic converter. Yang lebih berbahaya, pada mobil tua tanpa knocking sensor, knocking bisa terjadi terus-menerus. Detonasi awal ini merusak mesin perlahan. Sobat KabaRakyat, biaya perbaikan tak murah.

Selain kerugian teknis, masyarakat juga dirugikan secara finansial. Membayar harga Pertamax tetapi mendapat kualitas Pertalite jelas merugikan. Kasus ini juga menambah beban negara hingga Rp193,7 triliun. Sobat KabaRakyat, ini skandal besar.

Media sosial pun ramai membahas kasus ini. Lebih dari 200 ribu cuitan di Twitter mengkritik pemerintah dan Pertamina. Kepercayaan publik terhadap institusi ini terus merosot. Sobat KabaRakyat, keresahan masyarakat kini meluas.

Hendra, salah satu narasumber, menyoroti sulitnya mengembalikan kepercayaan publik. Proses hukum yang berjalan membuat pernyataan resmi kurang dipercaya. Masyarakat lebih menanti putusan pengadilan. Sobat KabaRakyat, ini tantangan berat bagi Pertamina.

Fitra Eri menyarankan respons cepat dari Pertamina dan pemerintah. Sosialisasi melalui media sosial dan SPBU perlu digencarkan. Melibatkan influencer serta aparat hukum bisa menenangkan publik. Sobat KabaRakyat, komunikasi jadi kunci utama.

Namun, Fitra ragu menjadi juru bicara tanpa fakta jelas. Ia menekankan pentingnya komunikasi publik yang tepat tanpa bergantung pada influencer. Pertamina harus jujur dan terbuka soal dugaan oplosan. Sobat KabaRakyat, kejelasan sangat dibutuhkan.

Narasumber lain, Abra, menambahkan peran pemerintah dan DPR dalam kasus ini. Audit oleh BPH Migas dan Dirjen Migas harus segera dilakukan. Hasil uji laboratorium perlu dipublikasikan untuk meyakinkan masyarakat. Sobat KabaRakyat, transparansi jadi solusi.

DPR diminta mengawal audit ini dengan cepat. Bukan hanya untuk saat ini, audit masa lalu juga diperlukan. Bukti konkret dari uji lab bisa mengembalikan kepercayaan publik. Sobat KabaRakyat, langkah ini sangat mendesak.

Seorang anggota DPR menegaskan pentingnya komunikasi oleh figur berwenang. Direktur Pertamina harus turun langsung menenangkan masyarakat. Pernyataan juru bicara saja tak cukup menyelesaikan keresahan. Sobat KabaRakyat, otoritas perlu hadir.

Ia juga menyarankan Pertamina memberikan jaminan ganti rugi jika terbukti ada penyimpangan. Pertemuan terbuka dengan publik bisa membuka diskusi sehat. Ini menghindari kesan ada yang ditutup-tutupi. Sobat KabaRakyat, langkah ini patut dipertimbangkan.

Keluhan soal Pertamax bukan hal baru di masyarakat. Tahun 2024, media sosial ramai membahas kerusakan filter dan pompa bensin. Banyak pengguna merasa performa kendaraan menurun dibanding BBM swasta. Sobat KabaRakyat, ini memperkuat dugaan kualitas buruk.

Fitra mencatat banyak keluhan soal tenaga dan efisiensi Pertamax. Pengguna ojek online hingga pemilik mobil merasakan hal serupa. Kasus korupsi ini seolah mengonfirmasi kecurigaan publik. Sobat KabaRakyat, kepercayaan kini di ujung tanduk.

Pertamina perlu komunikasi yang rendah hati dan tidak defensif. Menjawab keluhan publik dengan transparansi adalah langkah awal. Kepercayaan yang hancur butuh waktu untuk pulih. Sobat KabaRakyat, ini momen perbaikan bagi Pertamina.

Kasus ini juga jadi peluang bagi pemerintah untuk berbenah. Jika Pertamina lebih bersih dan efisien, pelayanan BBM bisa lebih baik. Harga terjangkau dan kualitas terjamin akan menguntungkan rakyat. Sobat KabaRakyat, masa depan kini jadi taruhan.

Posting Komentar