Rangka eSAF Honda Rapuh?? | Konsumen Menangis, Honda Cuek?

Sumbar, KabaRakyat.web.id - Tahun 2024 menjadi tahun penuh kejutan bagi konsumen otomotif di Indonesia. Kasus rangka eSAF Honda menghebohkan publik karena mudah patah dan berkarat. Teknologi ini dirancang untuk efisiensi produksi, bobot, dan bahan bakar. Namun, Sobat KabaRakyat, kenyataannya jauh dari harapan.
Rangka eSAF seharusnya jadi inovasi cerdas dari Honda. Tujuannya memang mulia, yakni memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi. Sayangnya, karat jadi musuh utama yang merusak reputasinya. Sobat KabaRakyat, masalah ini memicu kekecewaan besar di kalangan pengguna motor.
Karat pada rangka eSAF bukan isu kecil. Jika teknologi baru justru rapuh, tentu ini jadi masalah serius. Banyak pihak mendesak Honda untuk melakukan recall produk tersebut. Sobat KabaRakyat, tanggung jawab penuh memang diperlukan.
Anehnya, recall yang diharapkan tak kunjung datang. Honda malah memberikan klarifikasi yang dinilai kurang memuaskan. Alih-alih solusi, pernyataan mereka justru memanaskan situasi. Sobat KabaRakyat, kasus ini malah semakin viral di masyarakat.
Ledakan kemarahan publik akhirnya mencapai puncaknya. Namun, seperti biasa, semua reda dengan sendirinya tanpa penyelesaian jelas. Recall yang jadi hak konsumen tak terealisasi. Sobat KabaRakyat, ini mengecewakan banyak pengguna motor Honda.
Lucunya, Honda tak melakukan recall besar-besaran. Mereka malah membagikan voucher cek rangka gratis. Honda juga memperpanjang garansi rangka menjadi lima tahun. Sobat KabaRakyat, langkah ini unik di industri otomotif Indonesia saat ini.
Dari sini, terlihat perlindungan konsumen di Indonesia masih lemah. Hukum seolah tak cukup tegas melindungi pengguna. Kasus ini jadi cermin betapa rapuhnya hak konsumen kita. Sobat KabaRakyat, ini jadi pelajaran besar.
Tak hanya motor, tahun 2024 juga mencatat kasus mobil. Toyota terseret masalah sudut Steering Axis Inclination (SAI) pada Innova Reborn. Masalah ini tak semasif rangka eSAF, tapi tetap serius. Sobat KabaRakyat, hanya orang tertentu yang paham mendeteksinya.
Seorang konsumen bernama Elnard Peter menemukan masalah ini. Innova miliknya punya sudut SAI di bawah standar, yakni kurang dari 10 derajat. Padahal, mobil sekelas M1 harusnya di atas 11 derajat. Sobat KabaRakyat, ini cacat produksi tersembunyi.
Elnard membeli Innova pada Desember 2020 di Tunas Toyota Hayam Wuruk. Ia langsung merasa kemudi tak nyaman setelah pembelian. Sudut SAI yang tak sesuai spesifikasi jadi penyebabnya. Sobat KabaRakyat, dugaan awal mengarah pada komponen suspensi depan.
Kunjungannya ke dealer tak membuahkan hasil. Permintaan kuitansi pembelian ditolak karena mobil disebut barang hadiah. Status ini menimbulkan kecurigaan tentang kualitas kendaraan. Sobat KabaRakyat, masalah malah semakin rumit baginya.
Tak puas, Elnard membeli Innova lain di Auto 2000 Bintaro pada 2021. Sayangnya, masalah serupa muncul lagi di unit kedua. Kemudi tetap tak nyaman karena sudut SAI bermasalah. Sobat KabaRakyat, kekecewaannya kini berlipat ganda.
Kunjungan servis pertamanya ke Auto 2000 Cilandak ditolak. Alasannya, mobil belum saatnya diperiksa. Merasa dirugikan, Elnard menempuh jalur hukum melawan Toyota. Sobat KabaRakyat, ia berjuang keras demi haknya sebagai konsumen.
Gugatan diajukan pada Mei 2023 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Mediasi gagal, dan kasus berlanjut hingga kasasi di Mahkamah Agung. Bukti penting seperti manual perbaikan tak diperiksa hakim. Sobat KabaRakyat, proses hukum ini terasa jalan di tempat.
Elnard juga melapor ke Badan Perlindungan Konsumen Nasional pada Mei 2024. Namun, responsnya masih kabur hingga kini. Birokrasi lamban kembali terlihat dalam kasus ini. Sobat KabaRakyat, perlindungan konsumen lagi-lagi dipertanyakan.
Tak berhenti, Elnard mengirim surat ke CEO Toyota, Akio Toyoda. Ia menuntut tanggung jawab atas layanan purna jual yang buruk. Menurutnya, Toyota mengkhianati standar hukum dan konsumen. Sobat KabaRakyat, perjuangannya luar biasa gigih.
Bagi sebagian orang, kasus ini mungkin terlihat berlebihan. Banyak pengguna Innova lain tak mempermasalahkannya. Namun, Elnard berada di jalur benar demi hak konsumen. Sobat KabaRakyat, ini bukan sekadar kepentingan pribadi.
Dampak cacat SAI ini cukup serius pada Innova. Mobil bisa limbung di kecepatan tinggi dan ban aus sebelah. Ini berbahaya karena tak teratasi meski sudah diservis berulang kali. Sobat KabaRakyat, Toyota seharusnya bertindak tegas menyelesaikan kasus ini.