HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar
~ ADVERTISEMENT ~

Bahaya Air Minum Isi Ulang: Benarkah Tercemar Tinja? Ini Fakta Lengkapnya!

Bahaya Air Minum Isi Ulang: Benarkah Tercemar Tinja?

Sumbar, KabaRakyat.web.id - Air minum isi ulang kini jadi pilihan banyak rumah tangga di Indonesia. Harganya yang murah, hanya Rp5.000 per galon, sangat menggoda. Sobat KabaRakyat, survei Kementerian Kesehatan 2020 ungkap satu dari tiga keluarga mengandalkannya.

Popularitas depot air minum isi ulang memang tak terbantahkan. Namun, ada kekhawatiran serius tentang kualitasnya. Bagaimana jika air yang kita minum ternyata tercemar? Sobat KabaRakyat, ini jadi pertanyaan besar.

Banyak depot menggunakan teknologi reverse osmosis (RO) untuk menyaring air. RO efektif menghilangkan kotoran fisik seperti kerikil. Tapi, bakteri dan kuman tak selalu mati dengan metode ini. Sobat KabaRakyat, higienitas jadi sorotan.

Air baku depot biasanya berasal dari sumur atau PDAM. Proses sterilisasi dengan sinar ultraviolet dilakukan untuk membunuh mikroorganisme. Namun, tak semua depot memenuhi standar pengolahan air. Sobat KabaRakyat, ini rawan masalah.

Standar pengolahan air minum mencakup tiga aspek penting. Pertama, pengolahan fisik untuk menghilangkan cemaran seperti pasir. Sobat KabaRakyat, ini biasanya pakai membran filter sederhana.

Kedua, pengolahan kimia seperti aerasi untuk kurangi zat besi. Proses ini menjaga kualitas air tetap aman dikonsumsi. Namun, tak semua depot melakukannya dengan baik. Sobat KabaRakyat, kualitas jadi taruhan.

Ketiga, pengolahan mikrobiologi pakai sinar UV untuk basmi bakteri. Depot yang tak higienis sering abaikan langkah ini. Sobat KabaRakyat, risiko kesehatan pun meningkat drastis.

Studi dari Kemenkes ungkap fakta mencengangkan tentang depot air. Dari 63.280 depot di Indonesia, hanya 52% yang layak operasi. Sisanya, 48%, tak memenuhi syarat kesehatan. Sobat KabaRakyat, ini alarm keras.

Lebih jauh, satu dari sepuluh depot tercemar bakteri E. coli. Bakteri ini bisa picu diare hingga stunting pada anak. WHO catat 2 miliar kasus diare global setiap tahun. Sobat KabaRakyat, Indonesia termasuk rentan.

Afrika dan Asia Tenggara jadi wilayah dengan kasus diare tertinggi. Di Indonesia, 78% kasus tekan kesehatan masyarakat. Penyebabnya sering dari air minum yang tak aman. Sobat KabaRakyat, kita harus waspada.

Observasi lapangan temukan potensi kerentanan di depot air. Sikat pembersih galon jarang diganti, kadang pakai bulu usang. Ini tingkatkan risiko kontaminasi air yang kita konsumsi. Sobat KabaRakyat, kebersihan alat krusial.

Lokasi depot di pinggir jalan juga jadi masalah serius. Paparan polusi udara dan debu tingkatkan risiko cemaran. Sobat KabaRakyat, ini jauh dari standar higienitas ideal.

Menurut Permenkes Nomor 43 Tahun 2014, lokasi depot harus bebas polusi. Tapi, kenyataan di lapangan sering berbanding terbalik. Banyak depot abai aturan ini demi kepraktisan. Sobat KabaRakyat, regulasi tak efektif.

Data Kemenkes 2022 tunjukkan 70% sumber air rumah tangga tercemar tinja. Ini termasuk air baku untuk depot isi ulang. Sobat KabaRakyat, sumber air jadi akar masalah besar.

Depot diminta ambil air dari sumber bebas cemaran. Bukti seperti surat jalan dari pemasok wajib ada. Tapi, pengawasan sering lemah di lapangan. Sobat KabaRakyat, kontrol kualitas kurang ketat.

Pemerintah lakukan uji laboratorium untuk cek kualitas air. Jika tak layak, depot dapat rekomendasi perbaikan. Namun, tak semua pengusaha patuh pada saran ini. Sobat KabaRakyat, kesadaran masih rendah.

Pengusaha depot punya tanggung jawab jaga kualitas air. Air minum adalah kebutuhan dasar yang terkait kesehatan. Sobat KabaRakyat, prioritas pada higienitas harus nomor satu.

Kita sebagai konsumen juga harus lebih kritis memilih air minum. Harga murah tak boleh korbankan kesehatan keluarga. Depot layak atau tidak, itu pilihan kita. Sobat KabaRakyat, mari bijak konsumsi air.

Posting Komentar