HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar
~ ADVERTISEMENT ~

Raja Charles III Memeluk Islam? Fakta dan Spekulasi Terbaru

Raja Charles III Memeluk Islam? Fakta dan Spekulasi Terbaru

Sumbar, KabaRakyat.web.id - Di tengah bulan suci Ramadan yang penuh berkah, sebuah kabar mengejutkan mengguncang dunia. Raja Charles III, pemimpin monarki Inggris, dikabarkan telah memeluk Islam. Berita ini menyebar cepat, menyulut kehebohan di Inggris Raya. Sobat KabaRakyat, warga pun berbondong-bondong mencari kebenaran di balik isu ini.

Kabar ini bukan sekadar rumor biasa, tetapi berpotensi menjadi peristiwa bersejarah. Jika terbukti benar, ini akan menjadi salah satu momen paling mengejutkan dalam monarki Inggris. Raja Charles III bukan hanya pewaris tahta, tetapi juga sosok dengan latar belakang luar biasa. Sobat KabaRakyat, sebelum naik takhta, ia pernah menjadi pilot jet tempur.

Di era 1970-an, Charles mengendalikan pesawat Supersonic Phantom F4 saat bertugas di Royal Navy dan Royal Air Force. Pengalaman ini jarang dimiliki seorang calon raja. Namun, di balik citra militernya, ada sisi lain yang menarik perhatian. Sobat KabaRakyat, ketertarikannya pada Islam ternyata sudah terlihat sejak muda.

Sebagai Prince of Wales sejak 1958, Charles disiapkan untuk takdir besar. Ia menjadi pewaris tahta pertama yang meraih gelar sarjana dari Universitas Cambridge. Studi sejarah, arkeologi, dan antropologi membentuk wawasannya. Namun, Sobat KabaRakyat, minatnya pada Islam dan hubungan antaragama tak kalah menonjol.

Spekulasi bahwa Raja Charles III memeluk Islam kian menguat karena kedekatannya dengan budaya Arab. Ia kerap memuji kontribusi Islam dalam berbagai bidang, seperti matematika dan arsitektur. Isu ini sebenarnya bukan hal baru. Sobat KabaRakyat, pada 1996, Mufti of Cyprus mengklaim Charles telah masuk Islam.

Pidato Charles di Oxford Centre for Islamic Studies memperkuat spekulasi tersebut. Ia memuji peran Islam dalam sejarah dan hak perempuan, yang sering disalahpahami dunia Barat. Ketertarikan ini tak pernah pudar. Sobat KabaRakyat, pada 2017, ia membuka pidatonya dengan salam khas Islam di pusat studi tersebut.

Sebagai pelindung Oxford Centre for Islamic Studies sejak 1993, Charles konsisten mendukung pemahaman antaragama. Acara peresmian gedung baru dihadiri Pangeran Turki Al-Faisal dan Dr. Farhan Nizami. Jarang ada pemimpin monarki yang begitu peduli pada umat Muslim. Sobat KabaRakyat, Charles menjadi pengecualian.

Sebelum naik takhta, Charles kerap menunjukkan perhatian pada komunitas Muslim Inggris. Dalam peringatan 25 tahun Islamic Relief UK, ia mengutip ayat Al-Quran. Langkah ini memperdalam pandangan bahwa pemahamannya tentang Islam sangat serius. Sobat KabaRakyat, ini bukan sekadar simbolis belaka.

Di tengah pandemi Covid-19, Charles kembali menunjukkan dukungannya. Ia memuji komunitas Muslim yang menghadapi Ramadan dalam kondisi sulit. Kontribusi mereka dalam krisis kesehatan global mendapat sorotan darinya. Sobat KabaRakyat, ia juga menghormati tenaga medis Muslim yang gugur.

Baru-baru ini, Raja Charles III dan Ratu Camilla turun langsung menyiapkan hidangan berbuka puasa. Di Darjeeling Express London, Charles membungkus kurma dan menyendok nasi biryani. Tindakan sederhana ini membawa pesan inklusivitas yang kuat. Sobat KabaRakyat, ini jarang terlihat di lingkaran kerajaan.

Puncaknya, Charles mengundang umat Muslim berbuka puasa di Kastil Windsor. Acara ini menjadi buka puasa pertama dalam sejarah kastil berusia 1000 tahun. Sebanyak 350 tamu hadir dalam momen bersejarah ini. Sobat KabaRakyat, ini mencerminkan keberagaman dan toleransi.

Undangan ini disambut gembira oleh umat Muslim, namun memicu kontroversi. Sebagian masyarakat Inggris menganggapnya mengabaikan tradisi Kristen monarki. Sobat KabaRakyat, momen ini berdekatan dengan Ash Wednesday dan Shrove Tuesday, hari besar Kristen.

Ketegangan meningkat saat akun The Royal Family tak mengucapkan Shrove Tuesday. Sebagai kepala Gereja Inggris, keputusan Charles memunculkan kecurigaan. Banyak warga bertanya, apakah ia masih Kristen? Sobat KabaRakyat, spekulasi tentang keyakinannya kian liar.

Mantan pastor Calvin Robinson turut angkat bicara di platform X. Ia yakin Charles telah menjadi mualaf, bahkan menyebut perjalanan ke Turki sebagai petunjuk. Pilihan Charles mempelajari bahasa Arab juga dipertanyakan. Sobat KabaRakyat, ini dianggap mengabaikan warisan Kristen.

Bagi kalangan konservatif, tindakan Charles mengejutkan dan kontroversial. Mereka mempertanyakan kesetiaannya pada akar spiritual monarki. Namun, ada pula yang membela Charles. Sobat KabaRakyat, mereka melihat ini sebagai upaya membangun jembatan antaragama, bukan perubahan keyakinan.

Pro dan kontra terus berkembang di masyarakat Inggris. Banyak bukti menunjukkan ketertarikan Charles pada Islam, namun tak ada kepastian resmi. Sobat KabaRakyat, apakah ia benar-benar memeluk Islam atau hanya ingin mempererat toleransi? Jawabannya masih misteri.

Hingga kini, pihak kerajaan belum memberikan pernyataan resmi. Spekulasi terus bergulir tanpa henti di tengah Ramadan yang penuh makna. Sobat KabaRakyat, kisah Raja Charles III ini menjadi cerminan kompleksitas hubungan agama dan kekuasaan.

Misteri ini mungkin akan terkuak suatu hari nanti, atau tetap menjadi tanda tanya. Yang jelas, perjalanan Charles menarik perhatian dunia. Sobat KabaRakyat, kita tunggu saja kelanjutan dari berita yang mengguncang monarki Inggris ini.

Posting Komentar