Sejarah Salat Tarawih: Dari Rasulullah Hingga Kini

Sumbar, KabaRakyat.web.id - Bulan Ramadan selalu identik dengan berbagai ibadah khas yang mendampingi umat Islam. Salah satunya adalah salat Tarawih, ibadah sunnah yang telah ada sejak zaman Rasulullah. Sobat KabaRakyat, tradisi ini punya sejarah panjang yang menarik untuk diulas.
Kata "Tarawih" berasal dari bahasa Arab yang berarti istirahat atau bersantai. Hal ini merujuk pada jeda di antara rakaat salat yang dilakukan. Sejarahnya bermula pada malam 23 Ramadan tahun kedua Hijriah. Sobat KabaRakyat, saat itu menjadi awal mula salat Tarawih.
Pada malam tersebut, Rasulullah menunaikan salat Tarawih untuk pertama kalinya. Setelah salat Isya di Masjid Nabawi, beliau tidak langsung pulang. Beliau berdiri dan salat sendirian dengan penuh kekhusyukan. Sobat KabaRakyat, momen ini jadi titik penting.
Beberapa sahabat yang masih di masjid melihat Rasulullah salat. Mereka tergerak untuk ikut berdiri di belakang beliau. Rasulullah tidak melarang maupun menyuruh, hanya melanjutkan ibadahnya. Sobat KabaRakyat, ini adalah cikal bakal salat Tarawih berjamaah.
Dua hari kemudian, pada 25 dan 27 Ramadan, Rasulullah kembali melaksanakan salat Tarawih. Jumlah sahabat yang ikut bertambah banyak. Kabar tentang salat malam ini pun menyebar luas di kalangan umat. Sobat KabaRakyat, antusiasme mereka semakin terlihat.
Pada malam 29 Ramadan, Masjid Nabawi dipenuhi umat yang ingin salat bersama Rasulullah. Namun, beliau tidak hadir dan menjelaskan alasannya setelah salat Isya. Beliau khawatir salat ini diwajibkan bagi umatnya. Sobat KabaRakyat, keputusan ini penuh hikmah.
Rasulullah berkata akan salat tanpa banyak makmum mulai saat itu. Beliau menyarankan umat untuk salat Tarawih sendiri-sendiri. Para sahabat memahami dan mulai melaksanakannya secara individu atau kelompok kecil. Sobat KabaRakyat, tradisi ini pun berkembang.
Tradisi salat Tarawih berlanjut hingga masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Saat itu, umat salat secara terpisah-pisah, ada yang sendiri, ada yang berkelompok. Umar melihat ini dan mengusulkan satu jamaah dengan satu imam. Sobat KabaRakyat, ide ini revolusioner.
Umar menunjuk Ubay bin Kaab sebagai imam tetap salat Tarawih. Ketika melihat umat bersalat rapi dalam satu saf, Umar menyebutnya "bidah hasanah". Inovasi ini memudahkan ibadah umat di bulan Ramadan. Sobat KabaRakyat, langkah ini dikenang hingga kini.
Pada masa Ali bin Abi Thalib, salat Tarawih tetap dilakukan berjamaah. Namun, ada perubahan pada jeda istirahat atau "tarwih". Jika sebelumnya istirahat setiap dua rakaat, kini menjadi setiap empat rakaat. Sobat KabaRakyat, penyesuaian ini cukup signifikan.
Perubahan lebih lanjut terjadi di era Umar bin Abdul Aziz. Di Makkah, salat Tarawih 20 rakaat diisi tawaf saat jeda. Umat di Masjidil Haram memanfaatkan istirahat untuk mengelilingi Ka’bah. Sobat KabaRakyat, ini jadi keunikan tersendiri.
Umar bin Abdul Aziz melihat umat Madinah tak punya kesempatan tawaf. Ia menambah jumlah rakaat salat Tarawih menjadi 36 rakaat sebagai kompensasi. Totalnya, dengan witir, menjadi 39 rakaat. Sobat KabaRakyat, ini menjaga keadilan ibadah.
Di Makkah, jeda istirahat memberi empat kali tawaf selama salat. Sementara di Madinah, tambahan rakaat jadi solusi untuk samakan keutamaan. Umar bin Abdul Aziz ingin ibadah umat seimbang di kedua kota. Sobat KabaRakyat, semangatnya luar biasa.
Pada zaman Rasulullah, jumlah rakaat salat Tarawih tidak baku. Beliau biasa melaksanakan 8 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Namun, di masa Umar bin Khattab, 20 rakaat jadi standar umum. Sobat KabaRakyat, tradisi ini diterima luas.
Mazhab Maliki dan Syafi’i menetapkan 20 rakaat sebagai jumlah ideal. Meski begitu, sebagian umat tetap melakukan 8 rakaat mengikuti Rasulullah. Di Madinah, jumlahnya berkembang jadi 36 rakaat pada masa Umar bin Abdul Aziz. Sobat KabaRakyat, variasi ini menarik.
Hingga kini, umat Islam di berbagai daerah melaksanakan salat Tarawih berbeda-beda. Ada yang 8, 20, bahkan 36 rakaat, sesuai tradisi lokal. Salat ini bisa dilakukan berjamaah atau sendiri di rumah. Sobat KabaRakyat, fleksibilitasnya luar biasa.
Yang terpenting dari salat Tarawih bukan jumlah rakaatnya. Keikhlasan dan semangat beribadah jadi inti utama di bulan Ramadan. Salat ini menghidupkan malam-malam penuh berkah bagi umat Islam. Sobat KabaRakyat, ini kesempatan mendekat pada Allah.
Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Salat Tarawih menjadi cara meraih ampunan dan keberkahan. Semoga umat Islam istiqamah menjalankannya hingga akhir Ramadan. Sobat KabaRakyat, ibadah ini membawa pahala berlipat ganda.