56% Gen Z Hanya Lulus SMP, Sulit Bersaing di Dunia Kerja?

Sumbar, KabaRakyat.web.id - Kondisi dunia kerja di Indonesia kini sedang tidak baik. Sobat KabaRakyat, banyak orang merasakan sulitnya mencari pekerjaan tetap. Pengamat sosial Ibu Ida menyebut ini akibat gangguan ekonomi besar yang memengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Gangguan ekonomi ini membuat lapangan kerja semakin menyusut. Menurut Ibu Ida, situasinya kini lebih buruk dari sebelumnya. Sobat KabaRakyat, faktor ekonomi makro yang menurun menjadi salah satu penyebab utama krisis ini.
Data menunjukkan ada 10 juta generasi Z tanpa pekerjaan. Mereka juga tak punya pendidikan atau pelatihan memadai. Sobat KabaRakyat, ini disebut sebagai kelompok NET, yang jadi tantangan besar bagi bangsa.
Pendidikan rendah turut memperparah keadaan. Sebanyak 56% penduduk hanya lulus SD atau SMP. Sobat KabaRakyat, angka ini diungkap Pak Timbul, menunjukkan betapa banyak orang sulit masuk sektor formal.
Orang dengan pendidikan rendah biasanya bekerja di sektor informal. Sobat KabaRakyat, Ibu Ida bilang sektor ini justru kian membesar. Hal ini terjadi karena banyak industri formal yang melemah akibat gangguan ekonomi.
Industri garmen dan tekstil jadi contoh nyata. Pekerjanya kini sangat rentan kehilangan pekerjaan. Sobat KabaRakyat, penelitian terbaru Ibu Ida menemukan tingkat PHK di sektor ini sangat tinggi.
Penyebabnya tak hanya dari dalam negeri. Impor tekstil dari Cina yang besar ikut melemahkan industri lokal. Sobat KabaRakyat, Ibu Ida mengkritik regulasi yang longgar, yang seharusnya lebih ketat mengatur impor.
Pendidikan gratis 9 tahun ternyata belum cukup membantu. Banyak anak di daerah tak melanjutkan sekolah. Sobat KabaRakyat, meski gratis, jumlah SMP dan SMA tak cukup menampung semua lulusan.
Raymond Chin, seorang influencer, juga prihatin. Ia bilang generasi Z banyak menganggur karena minimnya pekerjaan. Sobat KabaRakyat, menurutnya, ini akibat kegagalan memanfaatkan tenaga kerja produktif sejak lama.
Kebijakan pemerintah dinilai kurang mendukung. Akibatnya, angkatan kerja siap bekerja tapi tak terserap. Sobat KabaRakyat, Raymond melihat banyak anak muda hanya nongkrong karena tak ada pilihan lain.
Persaingan kerja kini sangat ketat. Lowongan sedikit, tapi pencari kerja banyak. Sobat KabaRakyat, adik Raymond yang lulusan desain hanya dapat gaji kecil, lalu beralih ke freelance digital.
Sektor informal kini mendominasi hingga 60% pekerjaan. Ini bukan kabar baik bagi ekonomi. Sobat KabaRakyat, Raymond bilang ini terjadi karena keterpaksaan, bukan pilihan ideal masyarakat.
Ia menyarankan generasi muda berwirausaha sendiri. Jika belum mampu, cari kerja digital di luar negeri. Sobat KabaRakyat, pemerintah harus menyediakan pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik.
Bonus demografi bisa jadi bencana jika tak dikelola. Sobat KabaRakyat, Raymond bilang waktu kita tinggal 5-10 tahun. Jika gagal, Indonesia bisa mundur alih-alih maju sebagai negara.
Pengangguran terbuka capai 7,47 juta orang. Mayoritas adalah lulusan perguruan tinggi usia 22-28 tahun. Sobat KabaRakyat, mereka seharusnya produktif, tapi tak ada cukup pekerjaan untuk mereka.
Kemiskinan ekstrem juga jadi masalah besar. Ada 25 juta orang dalam kondisi ini. Sobat KabaRakyat, Ibu Ida menyebut ini masalah struktural, bukan karena kemalasan individu.
Bantuan sosial tak cukup mengangkat derajat hidup. Sobat KabaRakyat, Ibu Ida bilang bansos hanya membantu bertahan. Akses modal seperti KUR harus lebih tepat sasaran untuk wirausaha.
Hotman usul perkuat pendidikan digital di sekolah. Ini bisa jadi solusi di era teknologi. Sobat KabaRakyat, infrastruktur di daerah kecil dan desa perlu ditingkatkan agar semua bisa bersaing.